Map Vision Indonesia

Citra Pleiades

(Last Updated On: April 15, 2021)
Citra Pleiades

Citra Satelit Pleiades1B Wilayah Kab. Tangerang, Banten, Skala 1:2,500
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Citra Pleiades merupakan tampilan beragam objek di permukaan dan dekat permukaan bumi yang direkam oleh keluarga Satelit Pleiades dari perusahaan asal Prancis, Airbus Defence & Space.

Saat ini sudah beroperasi dua Satelit Pleiades yakni Pleiades-1A dan Pleiades-1B, yang sering disebut sebagai satelit kembar, karena spesifikasinya yang sama persis. Jika tidak ada aral melintang, maka pada tahun 2021 ini, Satelit Pleiades generasi terbaru yang bernama Pleiades Neo, akan menyusul Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B untuk mengorbit di luar angkasa.

Rencananya sendiri, Satelit Pleiades Neo akan berjumlah 4 satelit, dengan 2 satelit bakal meluncur pada tahun 2021, dan 2 satelit sisanya menyusul pada tahun 2022 atau 2023 mendatang.

Nama Pleiades sendiri diambil dari sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus, yang dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang, dan salah satu yang berada dekat dengan Bumi.

Sejarah Satelit Pleiades

Sejak tahun 1997, Centre National dEtudes Spatiales (CNES) yang merupakan badan antariksa negara Prancis, melakukan sebuah riset terkait pembuatan satelit yang lebih inovatif dengan bobot yang lebih ringan dibandingkan Satelit SPOT-5.

CNES menginginkan satelit mempunyai bobot setidaknya 1000 kg (1 ton), jauh lebih ringan dibandingkan Satelit SPOT-5 yang memiliki berat mencapai 3 ton. Selain itu, satelit tersebut harus menghasilkan citra dengan resolusi spasial sangat tinggi.

Konsep satelit yang diinginkan tersebut menghasilkan konsep platform “3S” yakni Small Satellite System (Sistem Satelit Kecil) sebagai sistem penerus Satelit SPOT (SPOT Successor System), yang selanjutnya satelit yang ingin dibuat tersebut bernama Pleiades.

Pada kurun waktu yang sama, Agenzia Spaziale Italiana (ASI) yang merupakan badan antariksa Italia, juga melalukan riset terkait satelit observasi bumi berukuran kecil yang mereka beri nama COSMO-SkyMed (COnstellation of small Satellites for the Mediterranean basin Observation).

Walaupun sama-sama mempelajari pembuatan satelit observasi bumi berukuran kecil, namun terdapat perbedaan jenis satelit yang ingin dibuat. Jika CNES ingin membuat satelit optis dengan sensor pasif, maka ASI hendak membuat satelit sensor aktif menggunakan teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR).

Baik CNES dan ASI mempunyai tujuan yang sama dalam riset terkait satelit tersebut, yakni dapat melayani kepentingan sipil dan militer, terutamanya untuk keperluan di negaranya masing-masing.

Melihat kesamaan riset yang tengah dipelajari serta tujuan yang ingin dicapai, CNES dan ASI memutuskan bekerja sama untuk menghindari duplikasi sistem sipil dan pertahanan di Benua Eropa.

Pada 29 Januari 2001, sebuah perjanjian antara Pemerintah Italia dan Prancis (nota kesepahaman) dilakukan di Kota Turin, Italia. Tujuan perjanjian tersebut berupa kerja sama antara Prancis dan Italia dalam sistem pengamatan Bumi ganda dengan resolusi tinggi, yang terdiri dari konstelasi dua satelit optik di bawah kepemimpinan Prancis, dan konstelasi empat satelit dengan penggunaan gelombang mikro yang berada di bawah kepemimimpinan Italia. Kerja sama bilateral yang diberi nama ORFEO (Optical and Radar Federated Earth Observation) tersebut, ditandatangani oleh Giuliano Amato (Perdana Menteri Italia kala itu) dan Lionel Jospin (Perdana Menteri Prancis waktu itu).

Pemanfaatan riset dan pengembangan satelit observasi bumi penghasil citra dengan resolusi sangat tinggi ini, nantinya selain untuk kepentingan sipil dan militer, juga untuk pemenuhan kepentingan komersial secara global, yang dapat digunakan pada beragam aplikasi seperti kehutanan, hidrologi, pertanian, geologi, dan lain sebagainya.

Nota kesepahaman sebelumnya, diikuti dengan Memorandum of Agreement (MoA), antara pihak CNES dengan ASI, yang ditandatangani pada 22 Juni 2002, di ajang Paris Air Show.  MoA tersebut sebagai langkah pendefinisian sistem ORFEO.

Pada tahun 2005, CNES juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Swedish National Space Board (SNSB) dari Swedia, Instituto Nacional de Técnica Aeroespacial (INTA) dari Spanyol, Austrian Space Agency (ASA) dari Austria, dan Belgian Science Policy Office (BSPO) dari Belgia. Dengan kerjasama dengan berbagai badan antariksa serta badan lain yang terkait, pengembangan Satelit Pleiades memiliki konsep multi-misi dan program kemitraan.

Fase Komisioning

Pekerjaan mendalam tentang penilaian kebutuhan pengguna citra satelit dengan resolusi spasial sangat tinggi pada 8 domain utama (laut dan garis pantai, risiko dan bantuan kemanusiaan, Kartografi dan perencanaan kota, Hidrologi, pertanian, kehutanan, pertahanan, bahaya-bahaya yang terkait Geofisika), telah menghasilkan sejumlah studi kelayakan dari tahun 2006 sampai dengan 2011.

Sejak 2006, lebih dari 40 studi telah dilakukan oleh para ilmuwan dan pakar yang terkait dengan domain utama dari penggunaan citra satelit, yang berasal dari institusi yang ada di Prancis dan Belgia yang berhubungan erat dengan pengguna akhirnya dapat diakses oleh publik, seperti Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Ekologi, Lembaga Kartografi Nasional Prancis, serta banyak lainnya.

Studi tersebut menggunakan citra satelit optis resolusi sangat tinggi dari perusahaan DigitalGlobe (saat ini bernama Maxar Technologies) seperti WorldView-2 dan QuickBird, dari perusahaan GeoEye (saat ini bernama Maxar Technologies – setelah sebelumnya merger dengan perusahaan DigitalGlobe) seperti Ikonos dan GeoEye-1, citra satelit optis dengan resolusi spasial sangat tinggi lainnya seperti KOMPSAT dan FormoSat-2, serta penggunaan foto udara. Sedangkan untuk citra satelit sensor aktif menggunakan TerraSAR-X, COSMO-SkyMed, dan foto udara.

Fase terakhir dari Program ORFEO yakni fase Pleiades Users Thematic Commissioning (PUTC), dimulai pada Maret 2012. Fase ini merupakan tindak lanjut langsung dari tujuan dan filosofi Program ORFEO yaitu untuk mendukung dan mendorong berbagai institusi dalam penggunaan Citra Satelit Pleiades, serta melakukan penelitian dan pengembangan dengan menggunakan Citra Satelit Pleiades untuk setiap kebutuhan institusi.

BACA JUGA:

1). Mengenal Citra Satelit SPOT dari SPOT1 hingga SPOT5

2). Penjelasan Lengkap Citra Satelit SPOT7

3). Penjelasan Lengkap Citra Satelit SPOT6

4). JenisJenis Citra Satelit

5). Memahami Penginderaan Jauh

Untuk memudahkan akses menuju data Citra Satelit Pleiades, Program ORFEO juga membuat sebuah alat sehingga institusi yang memerlukannya dapat melakukan akses dan mengolah data Citra Satelit Pleiades. Hal ini dilakukan sebagai pelengkap dan sinergi dengan pemasaran secara komersial untuk pasar global yang akan dilakukan pihak Astrium GEO-Information Services.

Pihak-pihak yang telah bekerjasama dengan CNES sebelumnya dalam Program ORFEO ini mendapatkan akses terhadap Citra Satelit Pleiades secara cuma-cuma, seperti institusi dari Belgia, Swedia, Spanyol, dan Austria.

Perpindahan Kepemilikan Program Satelit SPOT dan Pleiades dari CNES ke Airbus Defence & Space

Logo Airbus Defence & Space

CNES memutuskan untuk mengakhiri keterlibatannya dalam Program Satelit SPOT yang telah berjalan selama puluhan tahun, dimana Satelit SPOT-5 merupakan satelit terakhir dari Program Satelit SPOT yang mereka luncurkan.

Selain Program Satelit SPOT, CNES juga menghentikan riset dan pengembangan terkait satelit observasi bumi lainnya.

Perusahaan swasta asal Prancis, European Aeronautic Defence and Space Company (EADS), tertarik untuk meneruskan program satelit observasi bumi dari CNES tersebut.

EADS akhirnya merealisasikan keinginan tersebut melalui anak perusahaannya yang bernama Astrium, dimana pada bulan Juli 2008, mereka membeli 81 persen saham CNES di Perusahaan SPOT Image yang merupakan perusahaan yang bertindak sebagai operator dalam Program Satelit SPOT. Semenjak itu, perusahaan Astrium menjadi pemilik Program Satelit SPOT.

Pada awal tahun 2014, perusahaan EADS melakukan restrukturisasi dan mengubah nama perusahaan menjadi Airbus Group. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk lebih mengenalkan perusahaan tersebut secara global, berhubung nama salah satu anak perusahaan mereka yakni Airbus lebih populer dibandingkan dengan nama perusahaan induknya sendiri.

Restrukturisasi dan perubahan nama perusahaan tidak hanya terjadi pada perusahaan induk, namun juga terhadap anak-anak perusahaan Airbus Group (EADS). Astrium selaku perusahaan pemilik Program Satelit SPOT, Pleiades, serta satelit observasi bumi lainnya, digabungkan dengan anak perusahaan Airbus Group lain yakni Cassidian dan Airbus Military. Perusahaan hasil merger dari ketiga anak perusahaan tersebut diberi nama Airbus Defence & Space. Sejak saat itu, produk dan layanan dari satelit observasi bumi berada di bawah naungan perusahaan Airbus Defence & Space.

Pleiades-1A

Satelit Pleiades-1A

Ilustrasi Tampilan Satelit Pleiades1A

Satelit Pleiades-1A merupakan Satelit Pleiades generasi pertama yang meluncur ke luar angkasa menggunakan roket Soyuz STA, pada tanggal 16 Desember 2011, dengan lokasi peluncuran di Guiana Space Center, Korou, Guyana Prancis (French Guiana).

Satelit ini menghasilkan citra dalam 2 (dua) moda yakni moda pankromatik yang terdiri dari 1 band dengan resolusi spasial 0.5 meter (hasil resampling), dan moda multispektral yang terdiri dari 4 band VNIR (Visible and Near Infra Red) dengan resolusi spasial 2 meter (hasil resampling).

Rangkuman Spesifikasi Teknis Satelit Pleiades-1A

Contoh Tampilan Citra Satelit Pleiades-1A

Berikut ini contoh tampilan Citra Satelit Pleiades-1A hasil olahan:

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1A Warna Natural Skala 1:2500

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1A Warna Natural Wilayah di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan, Skala 1:2,500
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1A Warna Merah Semu Skala 1:2500

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1A Warna Merah Semu Wilayah di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan, Skala 1:2,500
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1A Warna Hijau Semu Skala 1:2500

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1A Warna Hijau Semu Wilayah di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan, Skala 1:2,500
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1A Warna Merah Semu (Shaded Relief)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1A Warna Merah Semu (Shaded Relief) Wilayah di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan, Skala 1:10,000
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

3D View Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1A Warna Natural

3D View Data Olahan Citra Satelit Pleiades1A Warna Natural Wilayah di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Catatan:

Ukuran gambar telah diperkecil. Untuk melihat contoh data Citra Satelit Pleiades1A hasil olahan dalam format GeoTIFF dan ECW, Anda dapat menghubungi kami pada nomor WA berikut: 0878 2292 5861

Catatan:
Kualitas tampilan dari video yang kami unggah (upload) ke YouTube sudah kami turunkan, supaya ukuran file yang diunggah ke YouTube tidak terlalu besar. Untuk tampilan terbaik yang dapat dilihat pada situs YouTube tersebut, gunakan browser Google Chrome serta pilih opsi 480p pada bagian pemilihan kualitas.

Pleiades-1B

Satelit Pleiades-1B

Ilustrasi Tampilan Satelit Pleiades1B

Berselang setahun setelah peluncuran Satelit Pleiades-1A, tepatnya tanggal 2 Desember 2012, Satelit Pleiades-1B meluncur ke luar angkasa.

Tempat peluncuran juga dilakukan di tempat peluncuran yang sama dengan Satelit Pleiades-1A yakni di Guiana Space Center, Korou, Guyana Prancis (French Guiana), dengan menggunakan roket Soyuz STA.

Satelit Pleiades-1B merupakan kembaran dari Satelit Pleiades-1A, karena sama-sama menghasilkan citra satelit dalam dua moda yakni moda pankromatik yang terdiri dari 1 band dengan resolusi spasial 0.5 meter (hasil resampling), dan moda multispektral yang terdiri dari 4 band VNIR (Visible and Near Infra Red) dengan resolusi spasial 2 meter (hasil resampling).

Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B berada pada orbit yang sama, namun terpisah jarak hingga 180 derajat.

Rangkuman Spesifikasi Teknis Satelit Pleiades-1B

Contoh Tampilan Citra Satelit Pleiades-1B

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1B Warna Natural Skala 1:2500

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1B Warna Natural Wilayah di Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Skala 1:2,500
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1B Warna Merah Semu Skala 1:3000

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1B Warna Merah Semu Wilayah di Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Skala 1:3,000
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1B Warna Hijau Semu Skala 1:3000

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1B Warna Hijau Semu Wilayah di Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Skala 1:3,000
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1B Warna Natural (Shaded Relief) Skala 1:20000

Data Olahan Citra Satelit Pleiades1B Warna Natural (Shaded Relief) Wilayah di Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Skala 1:20,000
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

3D View Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1B Warna Natural

3D View Data Olahan Citra Satelit Pleiades1B Warna Natural Wilayah di Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Catatan:

Ukuran gambar telah diperkecil. Untuk melihat contoh data Citra Satelit Pleiades1B hasil olahan dalam format GeoTIFF dan ECW, Anda dapat menghubungi kami pada nomor WA berikut: 0878 2292 5861

Catatan:
Kualitas tampilan dari video yang kami unggah (upload) ke YouTube sudah kami turunkan, supaya ukuran file yang diunggah ke YouTube tidak terlalu besar. Untuk tampilan terbaik yang dapat dilihat pada situs YouTube tersebut, gunakan browser Google Chrome serta pilih opsi 480p pada bagian pemilihan kualitas.

Wahana Satelit Pleiades

Rancangan wahana Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B menggunakan variasi platform AstroSat yakni AstroSat-1000 dari EADS Astrium SAS.

Wahana satelit didesain agar mempunyai kelincahan dalam melakukan sebuah perekaman yang disertai tingkat akurasi tinggi dari citra satelit yang dihasilkannya.

Tingkat akurasi yang tinggi dari citra satelit hasil perekaman diperoleh dari meminimalkan antarmuka antara bus wahana dengan sensor perekaman.

Struktur bus wahana berbentuk heksagonal, dengan tiga panel surya ditempatkan pada posisi 120 derajat di bagian atas bus.

Untuk akurasi penentuan sikap satelit, wahana menggunakan tiga pelacak bintang (star tracker) dalam konfigurasi kuasi tetrahedron, yang beroperasi secara otonom.

Untuk sistem kontrol perilaku satelit, wahana menggunakan sistem kendali 3 sumbu (3–axis stablilized).

Penentuan orbit secara otonom dilakukan oleh penerima DORIS, yang merupakan sistem pelacak dari CNES, berdasarkan pengukuran antara satelit dengan stasiun bumi khusus pada dua frekuensi (400 MHz dan 2 GHz).

Sebagai aktuator (sebuah peralatan mekanis untuk menggerakan atau mengontrol suatu sistem) pada wahana, digunakan teknologi Control Moment Gyro (CMG), yang dapat membuat wahana dapat melakukan manuver pada saat kecepatan tinggi.

Total berat kering dari wahana 940 kg (kompatibel dengan peluncur roket Soyuz) ditambah dengan 75 kg hidrazin (bahan kimia pada bahan bakar roket).

Gambaran Bagian Dalam Wahana Satelit Pleiades

Gambaran Tampilan Bagian Dalam Wahana Satelit Pleiades1A & Pleiades1B
(Image Credit: CNES)

Gambaran Bagian Luar Wahana Satelit Pleiades

Gambaran Tampilan Bagian Luar Wahana Satelit Pleiades1A & Pleiades1B
(Image Credit: CNES)

Alasan Pleiades-1A & Pleiades-1B yang Semakin Populer               

Keberadaan dua satelit kembar Pleiades-1A dan Pleiades-1B diterima dengan sangat baik oleh pasar global. Terbukti dari makin populer dan semakin banyaknya pengguna Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, termasuk di negara kita, Indonesia.

Dulu, perusahaan, instansi, dan perorangan yang membutuhkan data citra satelit resolusi sangat tinggi multispektral, biasanya hanya mengenal Citra Satelit WorldView-2, namun saat ini, kebanyakan lebih memilih untuk order Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B.

Mengapa hadirnya Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B dapat sedikit demi sedikit menggerogoti “kue” yang selama ini didominasi oleh citra satelit hasil dari perekaman dari satelit-satelit kepunyaan perusahaan Maxar Technologies seperti WorldView-2, GeoEye-1, QuickBird, serta yang lainnya?. Hal tersebut tidak terlepas dari strategi marketing yang jitu dari perusahaan Airbus Defence & Space, seperti berikut ini:

1). Harga yang Lebih Rendah

Data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B dibanderol lebih rendah dibandingkan data original citra satelit multispektral dari perusahaan Maxar Technologies untuk resolusi spasial kelas 50 cm (0.5 m).

Hal ini sebenarnya masih jadi perdebatan, karena resolusi spasial asli dari Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B berkisar antara 70 cm – 80 cm (tergantung sudut perekaman), yang di resampling menggunakan teknologi yang mereka punyai menjadi 50 cm (0.5 m), sehingga banyak yang tidak heran mengapa harganya lebih rendah dibandingkan citra satelit multispektral resolusi spasial kelas 50 cm dari perusahaan Maxar Technologies.

Namun walau begitu, kualitas hasil resampling Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, sangatlah baik, dengan pembesaran maksimum yang dapat diperoleh sama dengan citra satelit dengan resolusi spasial asli 50 cm-an yakni antara 1:2500 hingga 1:2000.

Sebagai informasi, citra satelit multispektral resolusi spasial kelas 50 cm dari perusahaan Maxar Technologies berasal dari citra satelit yang memang mempunyai resolusi spasial asli antara 50 cm – 60 cm seperti WorldView-2 dan QuickBird, dari citra satelit yang mempunyai resolusi spasial asli 40 cm-an yaitu dari Citra Satelit GeoEye-1,  serta dari citra satelit yang mempunyai resolusi spasial asli 30 cm-an yaitu Citra Satelit WorldView-3 dan WorldView-4, yang di resampling menjadi citra satelit dengan resolusi spasial 50 cm.

2). Tidak Ada Pengelompokkan Data Arsip

Perusahaan Maxar Technologies memberlakukan dua kelompok/kategori data arsip original citra satelit yakni data arsip (archive) dan data update (fresh archive).

Data arsip merupakan data citra satelit yang mempunyai tanggal perekaman lebih dari 90 hari dari hari ini, sedangkan data update merupakan data citra satelit yang mempunyai tanggal perekaman kurang dari 90 hari dari hari ini.

Untuk lebih memahami perbedaan antara data arsip dan data update, berikut kami suguhkan contoh kasusnya:

Jika hari ini dimisalkan tanggal 1 Januari 2013, sedangkan data citra satelit yang akan diorder mempunyai tanggal perekaman 2 Oktober 2012, maka data citra satelit tersebut masuk kedalam kategori data arsip dikarenakan tanggal perekaman dari citra satelit tersebut lebih dari 90 hari (tepatnya 91 hari).

Jika hari ini dimisalkan kembali tanggal 1 Januari 2013, sedangkan data citra satelit yang akan diorder mempunyai tanggal perekaman 4 Oktober 2012, maka data citra satelit tersebut masuk kedalam kategori data update dikarenakan tanggal perekaman dari citra satelit tersebut kurang dari 90 hari (tepatnya 89 hari).

 Harga data update lebih tinggi dibandingkan dengan data arsip, hal ini mengakibatkan pihak customer harus membayar lebih tinggi jika data citra satelit yang diinginkan termasuk dalam kategori data update.

Hal lain yang terkadang menjadi masalah dengan adanya pengelompokkan data arsip ini ialah ketika sebuah area order ter-cover oleh data arsip dan juga data update, namun dari salah satu data tersebut meng-cover kurang dari luasan minimal order pembelian.

Contoh kasusnya seperti berikut ini:

Misalkan area order yang kita miliki dengan luasan 50 km2, setelah dilakukan pengecekan ketersediaan data citra satelit yang sesuai dengan spesifikasi yang kita inginkan, ternyata ter-cover oleh dua data citra satelit namun berbeda jenis datanya.

Dari total luasan 50 km2 tersebut, 40 km2 ter-cover oleh data arsip, sedangkan sisanya yakni 10 km2 ter-cover oleh data update.

Hal ini terkadang menjadi permasalahan, karena luasan minimal order untuk pembelian data arsip dan data update original citra satelit dari perusahaan Maxar Technologies yakni seluas 25 km2. Oleh karenanya, pihak reseller biasanya membuat pembuatan area baru pada bagian yang ter-cover oleh data update tersebut menjadi 25 km2 dan area order baru tersebut pada bagian pertampalannya dengan area yang ter-cover oleh data arsip, dibuat berlebih. Namun hal tersebut terkadang membuat customer keberatan, karena harus mengeluarkan biaya lebih, karena luasan area ordernya kembali bertambah.

Berbeda dengan perusahaan Maxar Technologies, perusahaan Airbus Defence & Space tidak memberlakukan pengelompokkan data arsip, sehingga data orignal Ctra Satelit Pleiades-1A atau Pleiades-1B yang sudah tersedia pada database termasuk dalam kategori data arsip, yang berarti data citra satelit yang direkam hari kemarin dan sudah tersedia pada database mempunyai harga yang sama dengan data citra satelit yang direkam 3 tahun lalu.

 3). Buffer Data Original Citra Satelit

Ketika kita order data original citra satelit, maka pihak Airbus Defence & Space memberikan penambahan (buffer) area order. Jadi misalnya kita order data original Citra Satelit Pleiades-1A atau Pleiades-1B seluas 25 km2, maka mereka akan memberikan luasan lebih dari 25 km2, bisa 30 km2 atau lebih.

Pemberian buffer area order sangatlah menolong pihak customer, berhubung kerap kali terdapat perbedaan posisi yang signifikan antara posisi pada area yang dimiliki customer dengan posisi pada citra satelit, sehingga jika tidak diberi penambahan area, bisa jadi terdapat bagian pada area yang sudah diperkirakan masuk pada citra satelit, ternyata ketika data original citra satelit sudah tersedia malah tidak masuk karena terjadi perbedaan posisi.

Kebijakan penambahan area order tidak dilakukan oleh perusahaan Maxar Technologies (setidaknya sampai artikel ini dibuat), yang menjadikannya kekurangan dibandingkan ketika order data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B.

Pleiades Neo

Satelit Pleiades Neo

Ilustrasi Tampilan Satelit Pleiades Neo
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)

Melanjutkan kesuksesan Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, perusahaan Airbus Defence & Space bersiap untuk meluncukan 4 Satelit Pleiades generasi terbaru yang membentuk sebuah konsetelasi, yang mereka beri nama Pleiades Neo.

Kalau tidak ada aral melintang, maka pada tanggal 27 April 2021 ini, 1 Satelit Pleiades Neo yang “bernama lengkap” Pleiades Neo 3 akan meluncur ke angkasa menggunakan roket peluncur Vega, kemudian beberapa minggu setelahnya, akan ikut menyusul 1 Satelit Pleiade Neo lainnya yang diberi “nama lengkap” Pleiades Neo 4. Sedangkan 2 satelit sisanya akan mengikuti jejak pendahulunya pada  tahun mendatang atau setidaknya pada tahun 2023 nanti.

Pleiades Neo akan menjadi penantang bagi Satelit WorldView-3 dan juga rencananya Satelit WorldView Legion dari perusahaan Maxar Technoloies, yang mampu menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial mencapai 31 cm (0.31 m) pada keadaan nadir.

Masing–masing Satelit Pleaides Neo mempunyai kemampuan untuk melakukan perekaman hingga 500 ribu kilometer persegi dalam seharinya. Maka total dalam satu hari, konstelasi Satelit Pleiades Neo dapat mengambil kenampakan permukaan bumi dengan luasan mencapai 2 juta kilometer persegi.

Data citra satelit hasil perekaman akan disimpan langsung pada platform OneAtlas secara online, yang memungkinkan para pelanggan untuk mengakses data, melakukan analisis serta korelasi dengan data arsip optik dan radar milik perusahaan Airbus Defence & Space.

Pleiades Neo juga dilengkapi dengan teknologi terkini dari Laser Communication Technology yang memberikan keuntungan kepada para pelanggan berupa kecepatan transmisi data yang sangat luar biasa. Dengan penggunaan Laser Communication Technology yang telah disinggung di atas, kecepatan transmisi data dapat mencapai 1.8 Gbit per detik dan posisi orbit geostasioner dari satelit relay, yang memungkinkan transmisi data mencapai 40 Tb per hari ke Bumi secara quasirealtime, yang sangat berlawanan dengan kondisi satelit saat ini yang terkadang mencapai keterlambatan transmisi data hingga beberapa jam lamanya.

Pleiades Neo akan menggunakan SpaceDataHighway untuk memastikan sistem reaktivitas tertinggi, latensi (jeda waktu pengiriman data) terendah, dan volume tinggi untuk transfer data. Dan penggunaan SpaceDataHighway oleh Pleiades Neo menjadikannya sebagai satelit komersial pertama yang menggunakan teknologi tersebut. SpaceDataHighway yang dikenal juga sebagai European Data Relay System (EDRS), dikembangkan oleh European Space Agency (ESA) dan Airbus Defence & Space, melalui kerjasama dalam bentuk PublicPrivate Partnership (PPP). Kehadiran teknologi ini selain memberi manfaat bagi Pleiades Neo, juga bagi Satelit Sentinel yang merupakan bagian dari Program Copernicus-nya ESA.

SpaceDataHighWay

SpaceDataHighway
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)

Keempat Satelit Pleiades Neo akan dilengkapi dengan terminal reaktif Ka-band yang memungkinkan pengambilan data update pada menit-menit akhir, bahkan jika satelit berada di luar garis pengamatan stasiun bumi (ground stations). Hal ini sangat bermanfaat bagi pelanggan dan pihak-pihak yang ingin segera mendapatkan data perekaman terbaru khususnya ketika musibah besar atau bencana alam terjadi ataupun untuk kepentingan mendesak militer maupun sipil.

Keberadaan terminal laser generasi selanjutnya yang terintegrasi pada Satelit Pleiades Neo, akan membuat pengoptimalan dalam hal daya dan mengurangi 60 persen massa serta ukuran dibandingkan dengan penggunaan terminal yang sedang digunakan saat ini. Terminal ini dirancang oleh Tesat Spacecom dan dikembangkan di bawah kerjasama antara German Aerospace Centre (DLR) dan Airbus Defence & Space.

Satelit Pleiades Neo, yang didanai, diproduksi, dioperasikan, dan dimiliki sepenuhnya oleh Airbus Defence & Space, dirancang dengan masa hidup selama 15 tahun ke depan, atau perkiraan akan berhenti beroperasi pada tahun 2035 mendatang.

Manfaat Citra Satelit Pleiades

Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, serta nantinya Citra Satelit Pleiades Neo, merupakan citra satelit yang termasuk dalam kategori citra satelit resolusi sangat tinggi (resolusi spasial di atas 1 meter), mempunyai kenampakan objek yang detail dengan akurasi lokasi yang tinggi, serta revisit time (kembali ke tempat semula) yang dapat dalam hitungan hari.

Dengan keunggulan tersebut, Citra Satelit Pleiades mempunyai beragam manfaat di berbagai sektor, seperti contohnya berikut ini:

  • Bidang Pertambangan dan Energi:
    • Digunakan sebagai data dalam Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) atau perizinan lainnya;
    • Salah satu data yang digunakan dalam laporan area tambang yang dimiliki sebuah perusahaan kepada kementrian terkait;
    • Perencanaan site plan area pertambangan;
    • Monitoring luasan area tambang yang dimiliki perusahaan dari waktu ke waktu;
    • Perencanaan dan monitoring rehabilitasi lahan hasil kegiatan pertambangan;
    • Monitoring kegiatan pertambangan ilegal dan PETI;
    • Inventarisasi potensi area pertambangan;
    • Monitoring perubahan tutupan lahan di area tambang dan sekitarnya;
    • Inventarisasi potensi dan perencanaan lokasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
  • Bidang Pertanian dan Perkebunan:
    • Melakukan observasi pada lahan yang luas, petak tanaman hingga tiap individu tanaman;
    • Melakukan identifikasi jenis tanaman dan kondisi tanah, potensi panen, efektifitas pengairan, kesuburan dan penyakit tanaman, kandungan air;
    • Secara berkala (time series) dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan tanaman, laju perubahan jenis tanaman, perubahan atau alih fungsi lahan pertanian;
    • Menghitung jumlah pohon dan volume hasil panen komoditi perkebunan;
    • Perencanaan  pola tanam perkebunan;
    • Perencanaan peremajaan tanaman perkebunan.
  • Bidang Kehutanan:
    • Monitoring batas-batas fungsi kawasan hutan;
    • Identifikasi wilayah habitat satwa;
    • Identifikasi perubahan kawasan hutan akibat illegal loging;
    • Inventarisasi potensi sumber daya hutan;
    • Pemetaan kawasan unit-unit pengelolaan hutan;
    • Perencanaan lokasi reboisasi.
  • Bagi Unit Pengelolaan Hutan HTI:
    • Perencanaan pembagian areal usaha ke dalam bentuk blok, petak dan anak petak;
    • Perencanaan lokasi camp, lokasi menara pengawas, lokasi persemaian, dan lain-lain;
    • Monitoring pertumbuhan tanaman dan areal siap panen.
  • Bagi Unit Pengelolaan Hutan HPH:
    • Inventarisasi luas lahan HPH;
    • Menghitung potensi volume kayu;
    • Perencanaan dan pembuatan site plan;
    • Perencanaan jalur transportasi loging;
    • Mengidentifikasi batas kawasan;
    • Evaluasi laju produksi.

Harga Citra Satelit Pleiades

Bagi Anda yang saat ini sedang membutuhkan data Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, serta nantinya Pleiades Neo, berikut informasi terkait harga Citra Satelit Pleiades beserta aturan pembelian dan pengolahannya:

  • Harga data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B dihitung per km2;
  • Harga pengolahan dan mapping data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B dihitung per km2;
  • Luasan minimal order pembelian dan pengolahan data arsip original yakni 25 km2, dengan jarak antar verteks dan lebar ke segala arah minimal 1 km;
  • Pengertian data arsip sendiri yakni data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B yang telah tersedia dalam database;
  • Data arsip akan tersedia antara 1 sampai dengan 7 hari setelah customer melakukan order;
  • Luasan minimal order pembelian dan pengolahan data perekaman baru original yakni 100 km2, dengan jarak antar verteks dan lebar ke segala arah minimal 5 km;
  • Pengertian data perekaman baru yaitu data yang tidak tersedia dalam database sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan, sehingga customer menginginkan satelit melakukan perekaman baru pada area yang hendak diorder. Spesifikasi dapat meliputi tanggal perekaman, tingkat tutupan awan, tingkat sudut perekaman, single atau stereo atau tri stereo, serta spesifikasi lain yang diinginkan;
  • Untuk pemesanan data perekaman baru, dilakukan kontrak pekerjaan selama 3 bulan, dalam artian satelit akan melakukan perekaman pada area yang diorder sesuai dengan citra satelit yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan, maksimal dalam jangka waktu 3 bulan. Jika setelah 3 bulan, satelit tidak mampu menghasilkan citra satelit sesuai spesifikasi, maka order dapat dibatalkan atau dapat diperpanjang selama 3 bulan selanjutnya;
  • Pemesanan data arsip dan perekaman baru tidak dapat dibatalkan dan diubah spesifikasinya setelah orderan telah dilakukan;
  • Lama pengolahan data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B tergantung dari tingkat kesulitannya. Estimasi waktu pengolahan akan disampaikan pada Quotation Order yang akan dikirimkan kepada pihak customer.
  • Lama proses mapping (interpretasi dan digitasi) dari data hasil olahan Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, tergantung tingkat kedetailan citra satelit yang digunakan beserta hasil yang diinginkan. Estimasi waktu mapping akan disampaikan pada Quotation Order yang akan dikirimkan kepada pihak customer;
  • Untuk pemesanan data original Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, yang dapat disertai dengan pengolahan dan mapping, Anda dapat menghubungi kami dengan klik tombol menuju WA admin kami di bawah ini:

Order Citra Satelit Pleaides

Alur Pembelian dan atau Pengolahan Citra Satelit Pleiades

Untuk melakukan pembelian dan atau yang disertai pengolahan dan juga mapping data Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B adalah sebagai berikut:

1). Silahakan kirimkan data area order sesuai dengan aturan order dari pihak vendor dalam format Shapefile (.shp), Google Earth files (.kml atau .kmz), CAD files (.dwg atau .dxf), atau titik–titik koordinat dalam sistem proyeksi Geodetik atau UTM, dengan datum WGS 84, ke email kami berikut ini: mapvisionindonesia@gmail.com atau cs@mapvisionindo.com.

Jika Anda tidak mempunyai data area order dengan format-format data yang telah disebutkan di atas, Anda dapat berkonsultasi dengan kami untuk pembuatan area order melalui nomor WA berikut: 0857 2016 4965 atau 0878 2292 5861, atau dapat juga melalui email kami yang telah disebutkan di atas;

2). Setelah kami menerima data area order, kami akan melakukan pengecekan ketersediaan data citra satelit yang meng–cover area order sesuai dengan spesifikasi yang Anda inginkan. Jika data citra satelit yang meng-cover area order tersedia, kami akan mengirimkan quicklook atau preview data citra satelit yang mencakup area order beserta quotation order-nya.

Dalam quotation order akan kami sampaikan informasi berupa harga total pembelian dan atau yang disertai pengolahan data original citra satelit dan juga mapping dari data citra satelit hasil olahan, estimasi waktu data original citra satelit akan tersedia, estimasi waktu pengolahan data original citra satelit setelah datanya tersedia, estimasi waktu mapping dari data citra satelit hasil pengolahan, serta beberapa informasi terkait lainnya;

3). Jika Anda setuju dengan quicklook dan quotation order yang kami kirimkan, maka silahkan melakukan pembayaran DP minimal 50% untuk pembelian yang disertai pengolahan data original citra satelit dan atau dengan mapping dari data citra satelit hasil olahan. Jika harga total untuk pembelian yang disertai pengolahan data original citra satelit lebih dari Rp. 100 juta, maka DP minimal 65% dari harga total.

Jika Anda hanya melakukan pembelian data original-nya saja, maka DP minimal 70% dari harga total;

4). Estimasi waktu data original tersedia antara 1 hari hingga maksimal 2 minggu;

5). Estimasi waktu pengolahan data original citra satelit sesudah data originalnya tersedia, tergantung dari jumlah scene/tanggal perekaman yang mencakup area order, luasan area order, hingga tingkat kesulitan pengolahan. Informasi mengenai estimasi waktu pengolahan data original citra satelit akan diinformasikan juga pada quotation order;

6). Estimasi waktu pengerjaan mapping dari data citra satelit hasil olahan tergantung detail output yang ingin dihasilkan, serta hal lainnya. Informasi mengenai estimasi waktu pengolahan data original citra satelit akan diinformasikan juga pada quotation order;

7). Jika pekerjaan telah selesai dilakukan, maka kami akan mengirimkan preview tampilan data original citra satelit atau yang disertai preview hasil pengolahannya dan atau yang disertai juga dengan mapping, beserta invoice untuk pelunasan sisa pembayaran. Pelunasan maksimal dilakukan 3 hari setelah Anda menerima invoice tersebut.

Data original dan atau yang disertai dengan pengolahannya, akan kami kirimkan setelah pelunasan telah dilakukan, atau dapat juga dilakukan secara Cash on Delivery (CoD) di wilayah Kota Bandung dan sekitarnya.

Jika terdapat informasi alur pembelian dan atau yang disertai pengolahan di atas yang belum Anda pahami, Anda dapat konsultasi kepada kami pada nomor WA berikut: 0857 2016 4965 atau 0878 2292 5861.

***

Sekian postingan kali ini. Semoga bermanfaat, dan juga jangan lupa untuk share postingan ini di media sosial Anda, supaya kawan Anda yang sedang membutuhkan informasi ini dapat mengetahuinya.

Sumber Utama:
Pleiades. Diakses Tanggal 14 April 2021.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:

1). [Tutorial] Membuka File Geodatabase di QGIS versi 3.x

2). [Tutorial] Menampilkan Informasi Cuaca di QGIS

3). [Tutorial] Cara Memperoleh Anotasi di Google Maps

4). [Tutorial] Membuat Area Buffer dalam Beberapa Radius Menggunakan QGIS

5). [Tutorial] Membuat Grid di QGIS

 

Author: Map Vision IndonesiaMap Vision Indonesia merupakan team yang berisikan praktisi di bidang Citra Satelit, Penginderaan Jauh (Remote Sensing), Sistem Informasi Geografis (SIG), serta Pemetaan pada umumnya. Kami telah berpengalaman khususnya mengerjakan ratusan proyek pengadaan dan pengolahan serta mapping data citra satelit berbagai resolusi dari berbagai vendor sejak tahun 2013.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Website Ini Bermanfaat? Bagikan Supaya Kawan Anda Tahu

Facebook20k
20k
WhatsApp chat
%d bloggers like this: