Map Vision Indonesia

Maxar menjadi Vantor dan Lanteris

Last Updated on November 9, 2025 by Map Vision Indonesia

Logo Vantor

DAPATKAN CITRA SATELIT RESOLUSI SANGAT TINGGI DARI VANTOR DENGAN KUALITAS TERBAIK & HARGA YANG KOMPETITIF DI MAP VISION INDONESIA

UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI KAMI PADA NOMOR TELEPON (WA): 0878 2292 5861 | E-MAIL: mapvisionindonesia@gmail.com

Kisah mengenai kepemilikan satelit penghasil citra dengan resolusi sangat tinggi QuickBird, Ikonos, GeoEye1, seri WorldView (WorldView1, WorldView2, WorldView3, dan WorldView4), serta konstelasi Satelit WorldView Legion, menarik untuk diceritakan karena proses merger dan akuisisi terjadi beberapa kali yang membuat pergantian owner dari satelitsatelit observasi Bumi komersial tersebut.

DigitalGlobe dan GeoEye: dari Rival menjadi “Saudara

Sepanjang lebih dari 1 dekade dari awal tahun 2000an hingga 2013, dua perusahaan asal Amerika Serikat, DigitalGlobe dan GeoEye, bersaing ketat selaku penyedia citra satelit resolusi sangat tinggi komersial (resolusi spasial kelas 0,5 meter sampai dengan 1 meter), selain karena pada waktu itu belum ada perusahaan lain di dunia yang ikut masuk dalam segmen pasar tersebut.

Logo DigitalGlobe dan GeoEye

Perusahaan GeoEye, Inc., sendiri sebenarnya adalah perusahaan hasil merger antara Space Imaging dengan Orbital Imaging Corporation (ORBIMAGE) pada tahun 2006 silam, di mana Space Imaging menjadi perusahaan yang pertama kali berhasil meluncurkan Satelit Ikonos pada 24 September 1999 sebagai satelit penghasil citra dengan resolusi spasial sangat tinggi yang mencapai kurang dari 1 meter.

BACA JUGA: Ikonos

Setali dua uang dengan GeoEye, perusahaan DigitalGlobe, juga awalnya bernama WorldView Imaging Corporation – sebuah perusahaan swasta yang didirikan pada Januri 1992 untuk menyongsong kebijakan pemerintah Amerisa Serikat kala itu yang mengizinkan perusahaan swasta untuk masuk dalam bisnis satelit penginderaan jauh komersial. Pada tahun 1995, WorldView Imaging Corporation berubah namanya menjadi EarthWatch Incorporated, setelah bergabung dengan divisi satelit penginderaan jauh dari Ball Aerospace & Technologies Corp.

Dua tahun berselang setelah proses merger tepatnya pada 24 Desember 1997, EarthWatch Incorporated berhasil meluncurkan satelit penginderaan jauh komersial pertamanya yang bernama EarlyBird1 di Kosmodrom Svobodny. Satelit ini dirancang untuk menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 3 meter untuk pankromatik dan 15 meter untuk multispektral. Sayangnya, walau sukses dalam peluncuran, namun, satelit perdana ini gagal beroperasi setelah mengalami kerusakan sistem tenaga hanya berselang 4 hari dari waktu peluncuran.

Berjarak hampir 3 tahun kemudian, EarthWatch kembali meluncurkan satelit penginderaan jauh keduanya, kali ini bernama QuickBird. Namun, satelit yang diluncurkan pada 20 November 2020 di Plesetsk Cosmodrome, Rusia, juga mengalami kerusakan dan kandas sebelum mencapai orbit.

Pada tahun 2001, entah terinspirasi dengan kebanyakan keluarga di Indonesia yang mengganti nama anaknya kalau sering mengalami sakit 😊, EartWatch Incorporated yang dua satelitnya mengalamilayu sebelum berkembang”, mengganti namanya menjadi DigitalGlobe. Dan, hasilnya tokcer. Satelit QuickBird 2 yang menjadi satelit pertama di bawah nama DigitalGlobe sukses meluncur pada 18 Oktober 2001, dan berhasil beroperasi hingga Januari 2015 atau lebih dari 14 tahun lamanya bertugas melakukan perekaman di seluruh permukaan Bumi.

Sejak Satelit QuickBird 2 sukses mengangkasa, maka “pertarungan” antara perusahaan DigitalGlobe dan GeoEye di pasar citra satelit resolusi sangat tinggi resmi dimulai. Customer terbesar kedua perusahaan berasal dari pemerintah Amerika Serikat sendiri melalui National Geospatial-Intelligence Agency (NGA). Keduanya berusaha mendapatkan kontrak besar dari NGA untuk menghidupi perusahaan.

BACA JUGA: QuickBird

Tahuntahun berikutnya, DigitalGlobe meluncurkan 2 satelit lain yaitu WorldView1 yang menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial mencapai 50 cm (0,5 m) berwarna hitam putih (pankromatik) pada 18 September 2007, dan selanjutnya WorldView2 yang memproduksi citra satelit dengan resolusi spasial mencapai 50 cm (0,5 m) yang terdiri dari 8 band multispektral, pada 8 Oktober 2009.

BACA JUGA: Satelit WorldView2

Sedangkan kompetitornya, GeoEye, meluncurkan satelit dengan nama yang sama dengan nama perusahaan, dengan penambahan angka 1 di belakangnya menjadi GeoEye1. Satelit GeoEye1 meluncur menuju antariksa pada tanggal 6 September 2008, di Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg, di California, Amerika Serikat. Menggunakan roket pengangkut Delta II 742010, Satelit GeoEye1 mengangkasa dan beroperasi hingga saat ini.

Satelit GeoEye1 mampu menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 41 cm (0,41 m) pada posisi nadir, namun sejak tahun 2013, ketinggian satelit dinaikkan supaya dapat beroperasi lebih lama lagi, yang berakibat resolusi spasial pada posisi nadir menurun menjadi 46 cm (0,46 m). Pada saat ini, untuk kepentingan penjualan, pihak perusahaan hanya menjual Citra Satelit GeoEye1 pada resolusi spasial kelas 50 cm (0,5 m).

Berdasarkan pengalaman kami dalam mengolah berbagai data citra satelit, kami bisa mengatakan bahwa Citra Satelit GeoEye1 merupakan citra satelit dengan tampilan objek dan warna terbaik. Warnanya terlihat “hidup” dan jernih dengan kenampakan objek yang solid.

Tahun 2013 menjadi titik balik bagi perusahaan DigitalGlobe dan GeoEye. Tidak disangkasangka kesepakatan merger terjadi diantara kedua perusahaan pada tahun tersebut, dengan perusahaan hasil merger tetap menggunakan nama DigitalGlobe. Keputusan ini diambil terutamanya karena customer terbesar perusahaan yakni pemerintah Amerika Serikat melalui NGA mengumumkan pemotongan besar pada programEnhanced View“, sebuah kontrak 10 tahun yang menjadi sumber pendapatan utama bagi kedua perusahaan. Pemotongan ini disebabkan oleh tekanan anggaran federal di AS dan berkurangnya permintaan citra satelit seiring dengan meredanya konflik di Afghanistan dan Irak. GeoEye secara khusus diberitahu bahwa pendanaannya akan dikurangi secara drastis, yang menempatkan perusahaan tersebut dalam posisi keuangan yang sulit.

Logo DigitalGlobe setelah merger dengan GeoEyePenggabungan ini menjadikan Satelit QuickBird, WorldView1, WorldView2, Ikonos, dan GeoEye1, berada di bawah satu naungan perusahaan, sehingga diproyeksikan akan menghemat anggaran senilai lebih dari 1,5 miliar USD.

Bagi GeoEye, merger ini adalah cara untuk bertahan hidup, sedangkan untuk DigitalGlobe, hal ini adalah cara untuk mengeliminasi pesaing utamanya serta mengamankan posisinya di puncak industri.

Di Bumi ini memang segala sesuatu bisa saja terjadi, termasuk keputusan merger dua perusahaan pemilik satelit penghasil citra satelit resolusi sangat tinggi, yang awalnya merupakan rival dan akhirnya malah menjadi “saudara”.

Setahun setelah merger, pada 13 Agustus 2014, DigitalGlobe meluncurkan satelit observasi Bumi komersial penghasil citra dengan resolusi spasial tertinggi kala itu yaitu Satelit WorldView3 yang menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial kelas 30 cm (0,3 m) dan terdiri dari 8 band multispektral serta 8 band SWIR.

Sebelum perusahaan GeoEye memutuskan merger dengan DigitalGlobe, mereka sebenarnya sudah dalam tahapan pembuatan Satelit GeoEye2 yang dipersiapkan sebagai pesaing bagi Satelit WorldView3. Satelit GeoEye2 dirancang untuk menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 30 cm (0,3 m) pada posisi nadir, dan terdiri dari 4 band VNIR + 1 band pankromatik.

Namun, kesepakatan merger yang terjadi membuat nama Satelit GeoEye2 diubah menjadi Satelit WorldView4 untuk kepentingan branding perusahaan DigitalGlobe yang sebelumnya telah memiliki seri Satelit WorldView (WorldView1, WorldView2, dan WorldView3), serta waktu peluncurannya juga diundur.

Satelit WorldView4 alias GeoEye2 akhirnya diluncurkan pada 11 November 2016, akan tetapi sayangnya satelit tersebut tidak berumur panjang. Satelit yang diperkirakan menghabiskan biaya pembuatan hingga 650 juta USD ini, mengalami kerusakan pada bagian Control Moment Gyros (“CMGs”), yang membuat Satelit WorldView-4 sulit untuk melakukan perekaman permukaan Bumi.

Pihak perusahaan mengumumkan kerusakan tersebut pada tanggal 7 Januari 2019, dimana selanjutnya pihak perusahaan melakukan berbagai upaya perbaikan, namun, satelit tetap mengalami kerusakan, sehingga akhirnya Satelit WorldView4 resmi berhenti beroperasi. Dengan demikian Satelit WorldView-4 hanya “bertugas” melakukan perekaman bumi selama 2 tahun lebih sedikit saja, padahal satelit ini dirancang dengan masa hidup antara 10 hingga 12 tahun ke depan.

DigitaGlobe menjadi Maxar Technologies: Dari Amerika Serikat menjadi Kanada

Ditengah keterkejutan publik atas merger yang dilakukan DigitalGlobe dan GeoEye pada tahun 2013, perusahaan hasil gabungan yang tetap bernama DigitalGlobe tersebut ternyata tidak bertahan lama. 4 tahun berselang, pada tahun 2017, DigitalGlobe diakuisisi oleh perusahaan teknologi luar angkasa asal Kanada, MacDonald, Dettwiler and Associates (MDA), dengan biaya mencapai 2,4 miliar USD. Hal ini menjadikan kepemilikan sedari awal perusahaan tersebut yang berasal dari Amerika Serikat menjadi milik perusahaan asal Kanada.

Logo Maxar Technologies

Perusahaan hasil akuisisi bernama Maxar Technologies yang selanjutnya menaungi empat lini bisnis utama yakni:

  • SSL (manufaktur satelit)
  • MDA (sistem radar, robotika, dan stasiun Bumi)
  • DigitalGlobe (citra satelit optik dan layanan geospasial)
  • Radiant Solutions (analitik data geospasial)

Tujuan MDA melakukan akuisisi untuk menciptakan sebuah perusahaanendtoend” (dari hulu ke hilir) yang terintegrasi secara vertikal. Perusahaan baru ini dapat merancang dan membangun satelitnya sendiri (kekuatan MDA/SSL), mengoperasikannya (kekuatan MDA & DigitalGlobe), dan menyediakan data dari berbagai sensor (optik dan radar), serta layanan analitik canggih (kekuatan Radiant Solutions, yang juga diakuisisi).

Namun, perusahaanendtoendini tidak berlangsung lama. Tahun 2019, lini bisnis MDA yang berada di Kanada dijual oleh perusahaan kepada sebuah konsorsium yang dipimpin oleh firma ekuitas swasta asal Toronto, Northern Private Capital (NPC). Proses akuisisi sepenuhnya rampung pada April 2020, dengan biaya mencapai 765 juta USD, dimana selanjutnya konsorsium tetap memberikan nama MDA terhadap perusahaan hasil pembelian tersebut. Penjualan ini dilakukan untuk mengurangi utang perusahaan dan fokus pada lini bisnis inti yang berpusat di Amerika Serikat yang meliputi penyediaan data citra satelit dan geospasial serta infrastruktur luar angkasa.

Dengan demikian sejak April 2020, perusahaan Maxar Technologies dengan MDA menjadi dua perusahaan yang berbeda.

Maxar Technologies menjadi Maxar Intelligence: Dari Kanada kembali ke Amerika Serikat

Entah genetik dari “lahirnyaperusahaan ini, kepemilikan perusahaan ternyata tidak berhenti sampai MDA melakukan akuisisi pada tahun 2017.  Setelah 6 tahun menjadi perusahaan yang dimiliki oleh perusahaan asal Kanada, pada tahun 2023, perusahaan ini kembali ke pelukan perusahaan asal Amerika Serikat.

Advent International, perusahaan ekuitas swasta, melakukan akuisisi terhadap perusahaan Maxar Technologies sebesar 6,4 miliar USD atau lebih dari 2 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan MDA saat mengakuisisi DigitalGlobe pada tahun 2017 silam.

Perusahaan Maxar Technologies direstrukturisasi menjadi dua lini bisnis yang terpisah yakni:

  • Maxar Intelligence yang berfokus pada penyediaan data citra satelit resolusi sangat tinggi, dari resolusi spasial kelas 1 m, 50 cm (0,5 m), 30 cm (0,3 m), dan 15 cm (0,15 m), serta halhal lain yang terkait dengan pengadaan datadata geospasial lainnya;
  • Maxar Space Systems yang berfokus pada pembuatan satelit observasi Bumi/penginderaan jauh serta hal lain terkait desain, manufaktur, dan perakitan infrastruktur luar angkasa.

Logo Maxar Intelligence & Maxar Space Systems

Maxar menjadi Vantor dan Lanteris

Berangkat dari pemikiran perusahaan supaya entitas dua lini bisnis yang dimiliki jelas dan tidak membingungkan publik, Advent International pada Oktober 2025, resmi mengganti nama Maxar Intelligence menjadi Vantor, sedangkan Maxar Space Systems menjadi Lanteris Space Systems. Sehingga dua lini bisnis tersebut memiliki nama yang benarbenar beda, tidak ada lagi kata yang sama di depannya.

Logo Vantor dan Lanteris Space Systems

Jadi saat ini, penyediaan data Citra Satelit QuickBird, Ikonos, GeoEye1, WorldView1, WorldView2, WorldView3, WorldView4, serta konstelasi Satelit WorldView Legion, dan berbagai data lain terkait geospasial, seluruhnya dijalankan oleh Vantor. Sedangkan, Lanteris Space Systems, berfokus pada pembuatan satelit serta halhal lain terkait desain, manufaktur, dan perakitan infrastruktur luar angkasa.

BACA JUGA:

1). WorldView Legion dalam Tampilan 3D

2). 2 Satelit WorldView Legion Lainnya Berhasil Mengangkasa

3). Citra Satelit Pertama dari WorldView Legion (Bagian II)

4). Akhirnya, Satelit WorldView Legion Resmi Mengangkasa

5). Dua Satelit WorldView Legion Siap Meluncur

Apakah Advent International akan menjadi pemilik terakhir dari data citra satelit resolusi sangat tinggi yang sudah terkenal di seantero Bumi ini? atau akan ada pemilik baru lainnya pada tahun-tahun mendatang?, bagaimana dengan prediksimu?.

Pembelian dan Pengolahan Data Arsip Original Citra Satelit dari Vantor di Map Vision Indonesia

Citra Satelit QuickBird, GeoEye1, Ikonos, WorldView1, dan WorldView2, merupakan datadata citra satelit resolusi sangat tinggi yang pertama kali kami jual dan olah, sebelum bermunculan perusahaanperusahaan lain yang menyediakan data citra satelit resolusi sangat tinggi seperti Pleiades1A, Pleiades1B, dan Pleiades Neo dari Airbus Defence & Space, Jilin dari Chang Guang Satellite Technology, Korea Aerospace Research Institute dengan Citra Satelit KOMPSAT, serta banyak lainnya.

Tahuntahun berikutnya keberadaan citra satelit dari perusahaan Vantor bertambah dengan peluncuran Satelit WorldView4 dan konstelasi Satelit WorldView Legion yang saat ini sudah berjumlah 6 satelit.

Melalui jumlah satelit yang beroperasi lumayan banyak – walau 3 satelit sudah berhenti beroperasi (Ikonos, QuickBird, dan WorldView4), ketersediaan data citra satelit resolusi sangat tinggi dari Vantor di wilayah Indonesia dapat dikatakan cukup memadai.

Citra satelit dari Vantor juga banyak digunakan untuk keperluan kenampakan suatu wilayah melalui citra satelit resolusi sangat tinggi di bawah 1 meter pada tahuntahun lawas terutamanya dari 1999 sampai dengan 2013, berhubung saat itu hanya perusahaan Vantor yang menyediakan data tersebut.

Dari pengalaman pembelian dan pengolahan data citra satelit resolusi sangat tinggi selama ini, citra satelit resolusi sangat tinggi dari Vantor ini bersama dengan data citra satelit dari perusahaan Airbus Defence & Space dapat dibilang merupakan citra satelit dengan kualitas terbaik dari sisi tampilan warna, kenampakan objek, akurasi, serta hal lainnya.

Oleh karena itu, bagi Anda dan perusahaan yang saat ini tengah memerlukan data citra satelit resolusi sangat tinggi dari resolusi spasial kelas 1 m, 50 cm (0,5 m), 30 cm (0,3 m), dan 15 cm (0,15 m), dapat menggunakan data citra satelit dari Vantor. Melalui pengalaman kami dari tahun 2013 serta keahlian kami yang terus berkembang, kami mengolah data original citra satelit dari Vantor dengan hasil terbaik bagi Anda dan perusahaan.

3D View Data Olahan Citra Satelit GeoEye-1 Warna Natural

Tampilan 3D (3D View) Data Olahan Citra Satelit GeoEye1 Warna Natural di wilayah Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah
(Image Copyright: Vantor; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit WorldView Legion-04

Data Olahan Citra Satelit WorldView Legion04 Warna Natural Skala 1 : 5.000 di wilayah Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat
(Image Copyright: Vantor; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Citra Satelit WorldView-2 di Areal Tambang Terbuka

Data Olahan Citra Satelit WorldView2 Warna Natural di Areal Tambang Terbuka
(Image Copyright: Vantor; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Citra Satelit WorldView-1 False Color

Data Olahan Citra Satelit WorldView1 Warna Tidak Sebenarnya (False Color) Skala 1 : 2.000
(Image Copyright: Vantor; Courtesy of Map Vision Indonesia)

citra satelit worldview 2, satelit worldview 2, data olahan citra satelit worldview 2, maxar technologies, digitalglobe

Data Olahan Citra Satelit WorldView2 Warna Tidak Sebenarnya (False Color) Merah Semu Skala 1 : 2.500 di wilayah Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan
(Image Copyright: Vantor; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Untuk informasi pemesanan dan pengolahan data original citra satelit dari Vantor, Anda dapat klik tombol menuju WA admin kami di bawah ini:

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:

1). [Tutorial] Membuka File Geodatabase di QGIS versi 3.x

2). [Tutorial] Menampilkan Informasi Cuaca di QGIS

3). [Tutorial] Cara Memperoleh Anotasi di Google Maps

4). [Tutorial] Membuat Area Buffer dalam Beberapa Radius Menggunakan QGIS

5). [Tutorial] Menghitung Volume Data Raster Menggunakan QGIS

Author: Map Vision IndonesiaMap Vision Indonesia merupakan team yang berisikan praktisi di bidang Citra Satelit, Penginderaan Jauh (Remote Sensing), Sistem Informasi Geografis (SIG), serta Pemetaan pada umumnya. Kami telah berpengalaman khususnya mengerjakan ratusan proyek pengadaan dan pengolahan serta mapping data citra satelit berbagai resolusi dari beragam vendor sejak tahun 2013.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *