Last Updated on October 18, 2025 by Map Vision Indonesia

Rendering Satelit Owl
(Image Copyright: Planet)
DAPATKAN CITRA SATELIT OWL (SEGERA) DENGAN KUALITAS TERBAIK & HARGA YANG KOMPETITIF DI MAP VISION INDONESIA
UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI KAMI PADA NOMOR TELEPON (WhatsApp): 0878 2292 5861 | E-MAIL: mapvisionindonesia@gmail.com
Nama Citra Satelit PlanetScope berhasil menyeruak ke permukaan dalam beberapa tahun terakhir sebagai salah satu citra satelit yang banyak digunakan di dunia termasuk juga di Indonesia.
Citra Satelit PlanetScope memiliki resolusi spasial asli antara 3 sampai dengan 5 meter, tergantung tingkat sudut perekaman dan tipe instrumen Satelit Dove yang melakukan perekaman, namun untuk kepentingan penjualan, data dibuat dalam kelas resolusi spasial 3 meter. Pertanyaannya adalah mengapa Citra Satelit PlanetScope yang “hanya” mempunyai tingkat resolusi spasial tidak berada pada kategori citra satelit dengan resolusi sangat tinggi mampu bercokol pada jajaran citra satelit yang laris sekarang ini, di saat kebutuhan akan citra satelit dengan tingkat resolusi spasial semakin tinggi lebih diperlukan?.
Jawabannya karena Citra Satelit PlanetScope mampu menjadi solusi atas tingkat ketersediaan citra satelit terutamanya untuk kategori citra satelit resolusi sangat tinggi (resolusi spasial kelas 0,3 m – 0,5 m) dan juga resolusi tinggi (0,6 m – 1,5 m), yang dapat dibilang sebagian besarnya tidak terlalu melimpah untuk wilayah di Indonesia, ditambah juga tingkat tutupan awannya yang tidak selalu rendah. Melalui ratusan Satelit Dove dan SuperDove yang beroperasi di antariksa sebagai satelit penghasil Citra Satelit PlanetScope, nyaris setiap hari melakukan perekaman setiap jengkal lahan yang ada di permukaan Bumi.
BACA JUGA:
1). Satelit Observasi Bumi Kepunyaan Negeri Singa
2). Clarity–1: Satelit Penghasil Citra dengan Resolusi Ultra Tinggi
3). Cara Memperoleh Citra Satelit Komersial untuk Kepentingan Anda
Dengan ketersediaan data yang masif karena perekaman di suatu wilayah dilakukan hampir setiap hari, maka diharapkan terdapat satu waktu pada area tersebut tingkat tutupan awannya dapat lebih rendah atau bahkan bisa bebas dari awan. Andai ternyata kehadiran awan tebal di area tersebut senantiasa banyak, maka kita dapat berharap posisi dan bentuk awannya berbeda–beda, sehingga tingkat tutupan awannya dapat direduksi atau bahkan hilang sama sekali melalui proses cloud remove (menghilangkan awan tebal) melalui penggunaan beberapa data citra satelit yang mempunyai waktu perekaman yang berbeda, sedangkan untuk awan tipis (hazy) dapat dicoba terlebih dahulu melalui proses pengolahan koreksi atmosferik untuk mengurangi atau bahkan menghilang sama sekali dari data citra satelit.
Ketersediaan data yang bejibun ini, memberikan banyak manfaat bagi beragam sektor. Sebagai contoh, sektor pertambangan yang memerlukan data citra satelit setiap tahunnya untuk kepentingan perizinan seperti Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) tidak akan kesulitan lagi mendapatkan data citra satelit dengan range liputan perekaman antara 1 tahun hingga 6 bulan terakhir dari hari permintaan penyediaan data citra satelit.
Selain itu, dengan ketersediaan data Citra Satelit PlanetScope yang masif dan terus update, maka monitoring menggunakan citra satelit dalam hitungan hari terhadap penggunaan lahan sebuah kawasan ataupun project yang tengah dilakukan di sebuah area, menjadi sesuatu yang dapat dilakukan.
Pembahasan lebih lengkap mengenai Citra Satelit PlanetScope dapat Anda simak pada postingan berikut ini: PlanetScope: Citra Satelit dengan Ketersediaan Data yang Lengkap
Next Level
Kesuksesan Citra Satelit PlanetScope membuat perusahaan pemiliknya yakni Planet melakukan duplikasi strategi untuk rencana konstelasi satelit teranyar mereka yang menghasilkan citra dengan resolusi spasial kelas 1 meter.
Sebenarnya, Planet sudah memiliki konstelasi Satelit SkySat yang berjumlah 21 satelit dan menghasilkan citra satelit dengan kelas resolusi spasial mencapai 0,5 meter yang termasuk kategori citra satelit resolusi sangat tinggi, namun dengan jumlah satelit yang masih puluhan serta berukuran mini, citra satelit yang dihasilkan Satelit SkySat dalam satu perekaman mencakup sedikit area dan membuat tingkat ketersediaan datanya terutama di Indonesia bisa dibilang langka.
Selain itu, berhubung ukuran 1 scene perekaman data Satelit SkySat sangat kecil, maka untuk data yang diberikan kepada pihak customer sudah berupa data hasil mosaic atau penggabungan scene–scene dalam tanggal perekaman yang sama, yang diberi nama Citra Satelit SkySat Collect Product. Akan tetapi, timbul permasalahan dari hasil mosaic tersebut yakni terkadang terdapat kesalahan dari jenis data original ini, berupa ditemukannya hasil mosaic pada area pertampalan antar scene tidaklah match (koreksi geometrik antar scene tidak diperhatikan), seperti ditunjukkan area yang ditandai warna merah pada gambar di bawah ini:

Tampilan Tidak Match antar Scene Data Original Citra Satelit SkySat Collect Product
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)
Selain itu hasil mosaic antar scene dari data original Citra Satelit SkySat Collect Product tidak memperhatikan kondisi atmosferik dan juga kesesuaian warna dari masing–masing scene yang digabungkan, seperti diperlihatkan gambar di bawah ini:

Perbedaan Kondisi Atmosferik antar Scene Data Original Citra Satelit SkySat Collect Product dalam Tampilan Warna Merah Semu
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)
Untuk kesalahan berupa tidak match–nya objek antar scene, maka hal tersebut sudah tidak dapat diperbaiki karena data original yang kami dapatkan sudah dalam bentuk penggabungan (mosaic), sedangkan untuk tampilan kondisi atmosferik yang berbeda antar scene, dapat direduksi dengan proses pengolahan, seperti contohnya dapat Anda lihat pada gambar di bawah ini:

Tampilan Data Olahan Citra Satelit SkySat Warna Merah Semu Hasil Reduksi Perbedaan Kondisi Atmosferik antar Scene dari Data Original Citra Satelit SkySat Collect Product
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)
Dengan kondisi tersebut, Citra Satelit SkySat bisa dibilang tidak mendapat peruntungan bagus seperti halnya PlanetScope, apalagi pada kelas resolusi spasial tersebut sudah terdapat citra satelit dari perusahaan raksasa Vantor (dulu bernama Maxar Intelligence) serta Airbus Defence & Space, yang menghasilkan citra satelit dengan kualitas sangat baik.
Pembahasan lebih lengkap mengenai Citra Satelit SkySat dapat Anda simak pada postingan berikut ini: SkySat
Tidak hanya SkySat, Planet juga ikut masuk dalam penyediaan data citra satelit dengan kategori yang masuk pada salah satu kelas resolusi spasial tertinggi saat ini yaitu citra satelit dengan resolusi spasial kelas 30 cm (0,3 m) yang dihasilkan Satelit Pelican. Namun, dengan satelit berukuran mini serta rencana akhir dimana konstelasi Satelit Pelican “hanya” akan terdiri dari 32 satelit, maka diperkirakan tingkat ketersediaan datanya juga akan sedikit, seperti halnya SkySat.
Pembahasan lebih lengkap mengenai Citra Satelit Pelican dapat Anda simak pada postingan berikut ini: Pelican – Satelit Mini Penghasil Citra Resolusi Sangat Tinggi
Berbeda dengan SkySat dan juga Pelican, untuk satelit teranyar Planet yang bernama Owl, akan memiliki kelas resolusi spasial lebih rendah yaitu 1 meter, namun lebih tinggi dibandingkan PlanetScope.

Simulasi Kenampakan Citra Satelit Owl dengan Resolusi Spasial Kelas 1 Meter
(Image Copyright: Planet)
Kemungkinan besar akan terdapat banyak Satelit Owl yang beroperasi (belum tersedia rilis resmi terkait rencana jumlah total Satelit Owl yang akan beroperasi), yang dilihat dari pernyataan pihak perusahaan Planet yang mengatakan bahwa Satelit Owl akan melakukan perekaman nyaris setiap hari pada semua kenampakan objek dan fenomenanya yang berada di permukaan Bumi – hal yang mengindikasikan bahwa Satelit Owl akan membentuk sebuah konstelasi yang diprediksi terdiri dari banyak sekali satelit hingga diperkirakan mencapai ratusan satelit seperti Satelit Dove dan SuperDove yang menghasilkan Citra Satelit PlanetScope.
Ilustrasi Satelit Owl dari Planet memperlihatkan bahwa kemungkinan besar wahana Satelit Owl akan berukuran lebih besar dibandingkan Satelit Dove ataupun SuperDove yang termasuk dalam kategori satelit CubeSat 3U. Seorang juru bicara perusahaan mengonfirmasi bahwa Satelit Owl lebih besar, tetapi menolak untuk memberikan informasi massa atau dimensinya.
Wahana Satelit Owl akan dilengkapi dengan Graphics Processing Unit (GPU) dari NVIDIA untuk memproses Artificial Intelligence (AI) di satelit itu sendiri (on–board AI), untuk mendeteksi objek dan beragam aktivitas menarik yang terdapat di permukaan Bumi.
Penamaan satelit sendiri berdasarkan kebiasaan dari Planet yang memberi nama burung pada satelitnya, dan kali ini pemilihan owl atau burung hantu disebabkan burung tersebut memiliki mata yang besar, cekatan, dan bijaksana, seperti yang diungkap oleh CEO dan Co–Founder dari Planet, Will Marshall.
Rencananya sendiri pada akhir tahun 2026, Planet akan terlebih dahulu meluncurkan versi demonya Satelit Owl untuk mengurangi risiko penggunaan teknologi baru ini, sebelum meluncurkan secara bertahap wahana Satelit Owl pada tahun–tahun berikutnya.
Jika berjalan sesuai rencana, maka perusahaan–perusahaan kompetitor yang mengambil ceruk citra satelit resolusi sangat tinggi dan tinggi seperti Vantor, Airbus Defence & Space, serta banyak lainnya, mesti waspada penuh dengan pergerakan Planet, karena bisa jadi akan semakin menggerus pangsa pasar pengguna citra satelit komersial, berkat ketersediaan data citra satelit yang melimpah.
POSTINGAN MENARIK LAINNYA:
1). [Tutorial] Membuka File Geodatabase di QGIS versi 3.x
2). [Tutorial] Menampilkan Informasi Cuaca di QGIS
3). [Tutorial] Cara Memperoleh Anotasi di Google Maps
4). [Tutorial] Membuat Area Buffer dalam Beberapa Radius Menggunakan QGIS
5). [Tutorial] Menghitung Volume Data Raster Menggunakan QGIS

Twitter
Facebook