Map Vision Indonesia

Citra Satelit Musibah Longsor di Pasirlangu

Last Updated on January 31, 2026 by Map Vision Indonesia

Tahun 2026 baru menginjak bulan pertamanya, tapi peristiwa tragis sudah menghampiri negara kita. Setelah akhir tahun 2025 yang lalu, tiga provinsi di Pulau Sumatera dihantam banjir besar yang memporak-porandakan kehidupan masyarakat di sana, pada ujung Januari 2026 ini, kembali kabar tidak mengenakan menghampiri. Longsor besar terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang hingga tulisan ini dibuat (29 Januari 2026), telah merenggut 53 korban jiwa dan 27 orang masih dalam pencarian, serta mengubur hampir 50 rumah penduduk yang berada pada jalur longsor.

Tampilan Foto Udara yang Menunjukkan Area yang Terkena Longsor Besar di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat(Image Copyright: AFP/Timur Matahari)

Tampilan Foto Udara yang Menunjukkan Area yang Terkena Longsor Besar di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat
(Image Copyright: AFP/Timur Matahari)

Musibah yang terjadi pada  24 Januari 2026 tersebut, menurut Pakar Geologi dari ITB, Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia, menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya.

BACA JUGA:

1). SkySat

2). Cara Memperoleh Citra Satelit Komersial untuk Kepentingan Anda

3). Penjelasan Lengkap Citra Satelit SPOT7

4). Penjelasan Lengkap Citra Satelit SPOT6

5). Memahami Penginderaan Jauh

Curah hujan dengan durasi panjang dengan intensitas sedang hingga tinggi yang terjadi sejak hari Jumat, 23 Januari 2026, menjadi pemicu terjadinya longsoran. Air hujan dalam jumlah besar tersebut meresap dan mengisi poripori tanah hingga jenuh, pada wilayah yang termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produkproduk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya. Hal ini menyebabkan terjadinya longsoran dengan indikasi awal terjadi di hulu salah satu sungai di sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup aliran sungai dan membentuk sebuah bendungan alam (landslide dam). Aliran air yang tertahan menyebabkan genangan dalam skala besar dan luas disertai dengan materialmaterial lain yang ikut tergerus seperti lumpur, pasir, sampai bongkahan batu.

Tekanan hebat dan terus menerus membuat bendungan alam tersebut akhirnya jebol, yang membuat aliran air beserta berbagai material lainnya meluncur deras mengikuti alur sungai, yang selanjutnya ikut “menyapurumahrumah penduduk yang berada di bawahnya.

Mekanisme Terjadinya Longsoran di Pasirkuda

Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Musibah Longsor di Pasirlangu

Citra Satelit PlanetScope warna natural dengan resolusi spasial kelas 3 meter memperlihatkan kondisi sebelum (Before) dan sesudah (After) terjadinya musibah longsor besar di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat:

Citra Satelit PlanetScope Sebelum dan Sesudah Musibah Longsor di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat
(Image Copyright: Planet via Reuters)

Pada area yang ditandai warna merah pada bagian After (sesudah) merupakan area longsoran. Terlihat bahwa aliran longsor yang berwarna kecoklatan sampai menerjang bagian kaki Gunung Burangrang yang sudah terdapat permukiman penduduk.

Pemanfaatan Citra Satelit PlanetScope untuk Bencana

Citra satelit di atas yang digunakan untuk memperlihatkan keadaan sebelum dan sesudah musibah longsor di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, merupakan Citra Satelit PlanetScope dari perusahaan asal Amerika Serikat, Planet.

Citra Satelit PlanetScope memiliki resolusi spasial kelas 3 meter dengan jumlah band terdiri dari 4 band Visible and Near InfraRed (merah (red), hijau (green), biru, dan inframerah dekat) untuk citra yang dihasilkan oleh tipe Satelit Dove Classic & R, serta berjumlah 8 band yang terdiri dari 4 band VNIR + 4 band tambahan (tepi merah (red edge), kuning (yellow), biru pesisir (coastal blue), dan hijau I (Green I)).

Walau bukan termasuk citra satelit resolusi sangat tinggi di bawah 1 meter, namun Citra Satelit PlanetScope mempunyai keunggulan dari sisi ketersediaan datanya. Satelit penghasil Citra Satelit PlanetScope melakukan perekaman hampir setiap hari di suatu wilayah sehingga ketersediaan datanya sangat melimpah, kita hanya tinggal memilih data mana yang mempunyai tutupan awan yang paling minim serta sudut perekaman terendah. Berbeda halnya dengan satelit penghasil citra satelit dengan resolusi sangat tinggi dan tinggi, di mana waktu perekamannya sangat tidak menentu, terutama di wilayah-wilayah yang kurang strategis atau kurang peminatnya.

Melalui tingkat ketersediaan data yang melimpah, Citra Satelit PlanetScope mampu diandalkan dalam keadaan sebelum, saat, dan sesudah bencana, seperti contohnya yang terjadi di Desa Pasirlangu.

Sebelum bencana terjadi, Citra Satelit PlanetScope dapat digunakan untuk fase mitigasi dan kesiapsiagaan. Seperti melakukan identifikasi dan menghitung penggunaan lahan dan tutupan lahan di wilayah tersebut, serta melakukan analisis area rawan yang menjadi jalur limpasan longsor. Selain itu, untuk memetakan pembuatan jalur evakuasi jika bencana datang melanda.

Saat bencana terjadi, dengan satelit penghasil Citra Satelit PlanetScope melakukan perekaman yang dilakukan hampir setiap hari, kita dapat mengetahui secara cepat lokasi pasti di mana bencana terjadi serta wilayah yang terdampak. Di samping itu, melalui penggunaan Citra Satelit PlanetScope kita dapat sesegera mungkin melakukan identifikasi apakah infrastrukturinfrastruktur penting dalam pengiriman bantuan mengalami kerusakan atau tidak seperti jembatan, jalan, dan lain sebagainya, sehingga dapat dilakukan pemetaan jalur pengiriman bantuan yang cepat dan efisien, tanpa harus langsung menuju ke lapangan.

Sesudah bencana terjadi dan dalam fase pemulihan, Citra Satelit PlanetScope dapat digunakan untuk melakukan perhitungan estimasi kerugian materi yang dialami masyarakat yang terkena bencana, seperti rumah, area peternakan, sawah, perkebunan, serta berbagai infrastruktur lainnya yang mengalami kerusakan, yang dapat menjadi data tambahan bagi pemerintah dan pihak lain untuk membuat perhitungan estimasi anggaran yang diperlukan dalam masa pemulihan wilayah yang terkena bencana.  Lebih lanjut, Citra Satelit PlanetScope dapat dimanfaatkan untuk melihat dari waktu ke waktu (monitoring) perkembangan pembangunan kembali wilayah terdampak bencana, serta sebagai data masukan untuk membuat kebijakan yang dapat mencegah atau meminimalisir dampak dari bencana yang terjadi.

Untuk postingan lebih lengkap mengenai Citra Satelit PlanetScope, Anda dapat membacanya pada link berikut ini:

PlanetScope: Citra Satelit dengan Ketersediaan Data yang Lengkap

Contoh Tampilan Citra Satelit PlanetScope

Berikut ini, kami sajikan beberapa contoh tampilan data olahan Citra Satelit PlanetScope yang pernah Map Vision Indonesia kerjakan:

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Hijau Semu (False Color)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Hijau Semu (False Color) Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Merah Semu (False Color)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Merah Semu (False Color) Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural di Wilayah Kabupaten Sarolangun

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural di Wilayah Kota Tanjungpinang

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural Skala 1 : 15.000 di wilayah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural di Wilayah Kabupaten Karimun

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural (Shaded Relief) Skala 1 : 25.000 di Wilayah Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural (Shaded Relief) Skala 1 : 25.000 di wilayah Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural di Wilayah Kabupaten Solok Selatan

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

3D View Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural

Tampilan 3D (3D View) Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Natural di wilayah Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Merah Semu (False Color) Skala 1 : 15.000 di Wilayah Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau

Data Olahan Citra Satelit PlanetScope Warna Merah Semu (False Color) Skala 1 : 15.000 di wilayah Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Perbedaan Data Original & Data Olahan Citra Satelit PlanetScope

Perbedaan Data Original & Data Olahan Citra Satelit PlanetScope
(Image Copyright: Planet; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Keterangan Pembelian Data Original Citra Satelit PlanetScope

1). Ketersediaan data arsip original Citra Satelit PlanetScope dengan resolusi spektral 4 band (Red, Green, Blue, dan Near InfraRed), dan 8 band (Red, Green, Blue, Near InfraRed, Yellow, Coastal Blue, Green I, dan Red Edge) berbedabeda untuk setiap wilayah, tergantung dari tipe instrumen Satelit Dove yang merekam wilayah tersebut;

2). Tingkat resolusi spasial asli data arsip original Citra Satelit PlanetScope antara 3 sampai dengan hampir mencapai 5 meter, dan tiap wilayah berbedabeda, tergantung dari tipe instrumen Satelit Dove yang merekam wilayah tersebut serta sudut perekamannya, namun untuk saat ini data original Citra Satelit PlanetScope disediakan semuanya dalam resolusi spasial kelas 3 meter;

3). Tipe produk data original Citra Satelit PlanetScope yang kami jual saat ini yaitu PlanetScope Scene Product;

 PlanetScope Scene Product merupakan produk Citra Satelit PlanetScope berdasarkan satu scene hasil

perekaman, yang tumpang tindih dengan scene hasil perekaman lain yang dilakukan secara simultan dan tidak diatur dalam sebuah sistem grid berbentuk kotak (tiling grid system).

Ketentuan Pembelian dan atau Pengolahan Serta Mapping Data Citra Satelit PlanetScope:

1). Minimal luasan area order pembelian dan atau yang disertai pengolahan yakni 250 km2, dengan bentuk area order mempunyai lebar minimal 2 km dan jumlah verteks penyusunnya sedikit;

2). Minimal luasan area order untuk mapping dari data olahan Citra Satelit PlanetScope yakni 30 km2;

3). DP minimal 70 persen untuk pembelian yang disertai dengan pengolahan data original dan atau mapping dari citra satelit olahan;

4). Pembayaran 100 persen di muka untuk pembelian data originalnya saja;

5). Lama pengerjaan pengolahan dan atau mapping data Citra Satelit PlanetScope tergantung luasan area order serta tingkat kesulitan pengerjaannya, yang akan kami informasikan pada quotation order yang kami kirimkan kepada pihak customer;

6). Penawaran harga (quotation order) dari area yang hendak diorder akan kami kirimkan bersamaan dengan quicklook/preview citra satelit yang meng-cover area order.

Untuk respon yang lebih cepat, kami mohon kepada Anda yang serius untuk membeli data original Citra Satelit PlanetScope beserta dengan pengolahannya ataupun dimapping, untuk menghubungi kami via WA/Telepon atau email, dan tidak hanya melalui kolom komentar di bawah, karena kami tidak melakukan pengecekan terhadap website ini setiap harinya.

Hubungi Kami Di:

No. Telepon (WA/SMS/Telepon):  0878 2292 5861 (XL) atau 0857 2016 4965 (INDOSAT)

Email: mapvisionindonesia@gmail.com atau cs@mapvisionindo.com

Kami harapkan juga kepada Anda untuk mengirimkan data area yang akan diorder supaya perhitungan luas area yang akan diorder presisi, berhubung perhitungan pembelian dan atau pengolahan serta mapping data Citra Satelit PlanetScope dihitung per kilometer persegi, sehingga Anda tidak hanya menyebutkan nama dari area yang akan diordernya saja.

Data area order dapat berupa data area (polygon)/garis (lines) dalam bentuk vektor dengan format data Shape File (.shp), atau AutoCAD files (.dxfatau .dwg), atau Google Earth files (.kml atau .kmz), atau data titiktitik koordinat dalam sistem proyeksi Geodetik/UTM dengan datum WGS 84.

Namun jika Anda tidak mengenal/tidak familiar dengan bentuk format data tersebut, Anda dapat mengirimkan saja hasil capture/screenshot area order di Google Earth atau Google Maps atau Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan kami untuk pembuatan area order melalui nomor WA atau email yang tertera di atas.

Terima kasih kami ucapkan atas perhatiannya.

Untuk memudahkan bagi Anda yang serius ingin melakukan pemesanan data Citra Satelit PlanetScope atau hendak berkonsultasi terlebih dahulu, silahkan klik tombol menuju nomor WhatsApp (WA) kami berikut ini:

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:

1). [Tutorial] Membuka File Geodatabase di QGIS versi 3.x

2). [Tutorial] Menampilkan Informasi Cuaca di QGIS

3). [Tutorial] Cara Memperoleh Anotasi di Google Maps

4). [Tutorial] Membuat Area Buffer dalam Beberapa Radius Menggunakan QGIS

5). [Tutorial] Menghitung Volume Data Raster Menggunakan QGIS

Author: Map Vision IndonesiaMap Vision Indonesia merupakan team yang berisikan praktisi di bidang Citra Satelit, Penginderaan Jauh (Remote Sensing), Sistem Informasi Geografis (SIG), serta Pemetaan pada umumnya. Kami telah berpengalaman khususnya mengerjakan ratusan proyek pengadaan dan pengolahan serta mapping data citra satelit berbagai resolusi dari beragam vendor sejak tahun 2013.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *